Assalamulaikum warohmatulahi wabarokatuh

Daun

close
Tampilkan postingan dengan label Berita Terkini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Terkini. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Januari 2013

Obama dari jakarta (Jokowi)

Judul Spoiler:
Banjir besar di Jakarta juga menjadi perhatian media-media luar negeri. Kantor Berita Inggris BBC menyebut Jokowi sebagai Obama dari Jakarta. Artikel itu dimuat dalam BBC Asia, Rabu (23/1). Judulnya Flooding tests 'Jakarta's Obama'. Ada foto Jokowi mengenakan baju Betawi lengkap dengan peci berwarna hitam sebagai ilustrasi. BBC menyoroti banjir di Jakarta dan kebijakan Jokowi menyelesaikan permasalahan itu. Artikel tersebut ditulis oleh wartawan BBC Karishma Vaswani. "Jelang 100 hari kepemimpinannya, Jokowi menghadapi tes pertama. Air berwarna kecoklatan merendam Jakarta tanggal 17 Januari kemarin. Penyebabnya curah hujan tinggi yang menyebabkan tanggul jebol dan sungai meluap." BBC banyak memuji Jokowi dalam artikel itu. Mereka menyebut Jokowi sebagai tokoh populer dan mendapat dukungan dari kalangan bawah maupun kalangan menengah Jakarta. Warga Jakarta optimistis Jokowi bisa menyelesaikan masalah banjir di Jakarta. Jokowi juga dikenal sebagai politikus yang bersih dan pekerja keras. "Mr Widodo adalah politikus yang bersih. Seorang pemimpin yang mendengarkan keluhan masyarakat. Dia kerap disamakan dengan Presiden AS Barack Obama, bukan karena perawakannya yang sama-sama tinggi dan langsing. tetapi karena empatinya pada masyarakat." "Saya bukan Obama. Saya cuma orang yang sederhana," kata Jokowi sambil tertawa. "Jadi gubernur Jakarta membuat saya kadang sakit kepala. Tapi saya menikmatinya. Saya harus kerja dari pagi hingga ketemu pagi lagi untuk menunjukkan pada orang-orang saya bekerja keras. Itulah yang diharapkan masyarakat dari saya," kata Obama, eh Jokowi.
Sumber: Merdeka.com

Sabtu, 26 Januari 2013

cegah hujan habiskan 2,5 Miliar

Judul Spoiler:
JAKARTA-Metode mencegah banjir dengan modifikasi cuaca hujan buatan ternyata tidak murah. Hujan buatan metode tebar garam di awan menggunakan pesawat terbang menelan biaya mencapai Rp2,5 miliar dalam kurun waktu 30 hari kerja. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan porsi biaya paling besar dalam hujan buatan itu adalah bahan bakar yang mencapai 60% dari total biaya. Dia memaparkan sebenarnya ada tiga cara membuat hujan buatan dengan ditembak, aerosol dan flar atau mirip kembang api. Meskipun biaya mahal, BNPB tetap akan mengeluarkan anggaran sebagai langkah penanggulangan banjir lima tahunan di ibu kota. Upaya lain yang akan ditempuh adalah pengerukan dasar sungai. BNPB saat ini sedang mengajukan dana Rp1 triliun bencana kepada Kementerian Keuangan yang masih butuh persetujuan dari DPR RI. Dana itu diambil dari dana pencadangan bencana yang setiap tahun dianggarkan Rp4 triliun untuk menangani bencana di seluruh Indonesia. “Dana pencadangan bencana relatif kecil dibanding jumlah kebutuhan anggaran bencana mencapai Rp30 triliun. Kami berharap masyarakat dapat memaklumi bila program rehabilitasi rekonstruksi pasca bencana alam sedikit lambat karena terhambat anggaran,” tuturnya. (38/yus)

Jumat, 18 Januari 2013

komodo di filipina ?

Judul Spoiler:
Komodo adalah hewan purba yang di mata wisatawan sudah identik dengan Indonesia. Namun para wisatawan kini mulai melirik Filipina. Rupanya di sana juga ada komodo. Seperti apa komodo Filipina dan di mana ditemukannya? Tahun 2010 lalu para ilmuwan menemukan jenis kadal raksasa di hutan tropis sebelah utara Pulau Luzon, Filipina. Kadal raksasa sepanjang 2 meter ini adalah pemakan buah, dan punya sisik berwarna cerah. Namanya Varanus bitatawa, yang masih jadi kerabat spesies komodo di Indonesia si Varanus komodoensis. Penemuan itu tentunya mencengangkan, mengingat Luzon adalah pulau yang paling padat penduduk di Filipina. Ibukota negara tersebut, Manila, juga berada di pulau yang sama. Beruntung kadal raksasa ini tinggal di wilayah Pegunungan Sierra Madre, yang belum terjamah pemukiman. Walaupun baru ditemukan beberapa tahun lalu, rupanya Varanus bitatawa sudah dikenal baik oleh suku pedalaman setempat. Bahkan, entah sejak kapan kadal raksasa ini diburu untuk dimakan dagingnya. "Selama berabad-abad manusia memburu mereka. Mereka melihat dan mendengar keberadaan manusia sebelum kita melihatnya. Mereka lari dengan sangat cepat ke atas pohon sebelum kita datang," tutur Rafe Brown, ilmuwan dari University of Kansas, seperti dilansir dari Mail Online yang dikutip detikTravel, Selasa (15/1/2012). Para ilmuwan percaya, Varanus bitatawa adalah salah satu hal yang belum tereksplor dari Filipina. Sisi terangnya, kadal raksasa ini bisa memperkuat keinginan penggiat konservasi untuk mempertahankan hutan tropis di kawasan tersebut. "Ia (Varanus bitatawa) hidup di atas pohon, jadi tidak bisa lebih besar ukurannya dari komodo (di Indonesia). Komodo adalah spesies kadal raksasa yang pemakan daging," tambah Brown. Walaupun kemungkinan melihat hewan ini cukup kecil, tak ada larangan bagi wisatawan yang ingin mencobanya. Wisatawan yang penasaran harus trekking menyusuri Pegunungan Sierra Madre yang melintasi 10 provinsi di antaranya Aurora, Bulacan, Isabela, Laguna dan Quirino. Dibutuhkan persiapan yang matang, karena Anda akan berada di kawasan hutan selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Tubuh yang fit, peta dan GPS, serta peralatan dan perlengkapan trekking pun harus memadai. Siap bertemu kembaran komodo di Filipina?